Autistic-sweetiepie-boy-with-ducksinarow

Anak Autisme itu Cenderung Kreatif, Penelitian Mengungkapkan

Psikolog dari University of East Anglia (UEA) dan  University of Stirling menjelaskan adanya hubungan antara autisme dan kreativitas, mereka menemukan bahwa penderita autisme memproduksi lebih sedikit respons kepada lingkungan sekitar ketika mencari alternatif pemecahan pada problem sehari-hari, tetapi respons yang mereka lontarkan sangat original dan kreatif. Dalam riset ini mereka menghubungkan antara autisme dan proses kreatif.

Riset ini dipublikasi dalam Journal of Autism and Developmental Disorders, dilihat dari relawan yang mungkin tidak mengidap autisme tetapi memiliki prilaku yang sama seperti penderita autisme dan pola pemikiran yang dapat diasosiasikan dengan kondisi ini. Riset ini didasarkan dari penelitian sebelumnya yang menyarankan kemungkinan manfaat memiliki tingkah laku yang memiliki asosiasi yang kuat dengan autisme tanpa harus menyertakan penderita autisme.

Penulis riset ini, Dr Martin Doherty dari UEA’s School of Psychology, mengatakan, “Orang yang memiliki sifat seperti penderita autisme tingkat tinggi mungkin saja memiliki angka kuantiti rendah, tapi kualitas ide yang dihasilkan tinggi. Orang-orang ini adalah tipikal orang yang agak kaku dalam berpikir, jadi faktanya ide yang mereka hasilkan kerap tidak normal atau langka. Perbedaan ini mungkin menghasilkan implikasi yang positif untuk pemecahan masalah secara kreatif.”

Studi yang dilakukan sebelumnya dengan topik yang sama menghasilkan fakta bahwa kebanyakan orang menggunakan strategi yang sederhana, sebagai contohnya asosiasi kata; pertama-tama melontarkan jawaban yang biasa, kemudian mereka bergerak ke arah cognitif strategi dan jawaban mereka menjadi semakin kreatif. Riset terbaru menyatakan orang yang memiliki sifat seperti anak penderita autisme langsung melontarkan strategi yang sulit.

“Orang yang memiliki sifat seperti penderita autis cenderung menyelesaikan permasalah dengan cara yang tidak biasa,” kata dr Doherty, “Mereka mungkin tidak berpikir seperti orang yang tidak memiliki sifat autisme dan orang-orang ini akan menghasilkan ide yang tipikal.

Peneliti menganalisa data dari 312 orang yang mengisi daftar pertanyaan, data-data para relawan ini kemudian dirahasiakan. Daftar pertanyaan yang diisi adalah sebuah tolok ukur untuk menentukan kemiripan sifat mereka dengan penderita autisme, dan mereka juga mengambil bagian dalam tes kreativitas. Relawan yang terlibat direkrut melalui media sosial dan website yang ditujukan untuk orang-orang dengan  Autistic Spectrum Disorder, dan orang-orang terdekat mereka. Tujuh puluh lima relawan mengatakan mereka mendapat diagnosis menderita Autistic Spectrum Disorder.

Untuk melakukan tes terhadap perbedaan pola pikir para relawan, mereka diminta untuk memberikan penggunaan alternatif dari batu bata dan paper clip. Respons yang mereka berikan akan dihitung secara kuantiti, elaborasi, dan keunikan. Relawan yang menghasilkan empat atau lebih respons yang tidak biasa dalam riset ini ternyata memiliki kesamaan sifat dengan penderita autisme.

Orang-orang yang berpikir kreatif menggunakan penjepit kertas untuk; pemberat pesawat kertas, sebagai kawat untuk memotong bunga, dan sebagai pengait.

Untuk para orang tua yang memiliki anak pengidap autisme, kondisi anak anda bukanlah sebuah hambatan bagi masa depan. Justru anak anda sangat mungkin jadi anak yang berprestasi di sekolah atau pun lingkungan sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *